GEREJA YANG BERIMAN, BERTUMBUH DAN BERDAMPAK (1 TESALONIKA 3:1-13) - PDT. FRANSISKUS S. NAHAK
Admin SinodeGMIT
28 Oktober 2025 578 x Berita Gereja
Frans Nahak
Hari ini, Jumat, 31
Oktober kita merayakan HUT Reformasi yang ke-508, HUT GMIT ke-78 dan Penutupan
Bulan Keluarga. Tema renungan kita adalah Gereja yang Beriman, Bertumbuh dan Berdampak.
Berbicara tentang Gereja yang beriman pertama-tama kita tidak berbicara tentang
gereja sebagai lembaga, gedung gereja, melainkan orangnya. Gereja adalah
orangnya bukan gedungnya (KJ 257). Gereja yang beriman adalah orang/warga
gereja yang tetap beriman kepada Kristus di tengah-tengah tantangan dunia yang
kompleks.
Gereja yang bertubuh,
kita berbicara tentang gereja yang hidup, sebab sesuatu yang bertumbuh itu
karena dia hidup. Kemudian Gereja yang berdampak, adalah kemanfaatan kehadiran
gereja bagi dunia ini. Oleh karena itu, dari tema ini kita dapat merumuskan bahwa
gereja yang beriman adalah gereja yang bertumbuh dan berdampak bagi dunia.
Gereja adalah orangnya,
Anda dan saya, serta keluarga-keluarga Kristen di mana pun. Bagaimana orang
beriman menghadapi tantang dunia yang semakin kompleks? Bagaimana kita
pertumbuhan; ke arah mana? Atau gereja hidup namun tidak bertumbuh, kerdil?
Bertumbuh tetapi tidak sehat? Sejauh mana dampak kehadiran kita bagi sesama,
lingkungan, dst.?
PEMBAHASAN TEKS
Kita dapat
membagi bacaan ini dalam beberapa pokok pembahasan.
Pertama, ayat
1-5. Paulus mengirim Timotius kepada jemaat di Tesalonika. Timotius diutus
untuk mengetahui iman dan menguatkan iman jemaat di Tesalonika. Apakah
iman mereka masih terpelihara dan mereka masih mempertahankan iman mereka,
karena Paulus tahu bahwa ada penggoda yang menggodai mereka. Bagi Paulus,
penggoda yang mencobai mereka melalui penderitaan tidak mengejutkan (ay. 5)
sebab sebelumnnya Paulus sudah mengingatkan mereka (ay. 4).
Pada pasal 2:17-18,
Paulus memiliki kerinduan untuk hidup bersama dengan jemaat di Tesalonika. Dia
mau bersama mereka pada masa-masa pencobaan tersebut. Namun karena Paulus
tidak dapat bersama mereka, ia mengutus rekan sekerjanya, Timotius, kepada
mereka. Walaupun Timotius adalah anak rohaninya, masih sangat muda, Paulus
menganggap dia sebagai rekan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa Paulus sangat
menghargai dan menghormati seorang pelayan walaupun masih sangat muda. Ia
melihat orang muda yang melayani bukan sebagai saingan dalam pelayanan.
Apa cobaan yang
mendatangkan kesusahan bagi jemaat Tesalonika? Jemaat
mengalami kesusahan penindasan karena iman kepada Yesus Kristus (1:6). Mereka
menerima dan mengakui Yesus selaku Tuhan dan Juruselamat sehingga mendatangkan
penindasan yang menimbulkan penderitaan dan kesusahan. Selain itu, dalam
terjemahan Yunaninya, penderitaan yang dialami oleh jemaat di Tesalonika bukan
hanya penderitaan karena penganiayaan sebab kata thilipsis, menunjuk
kesulitan emosional dan penderitaan di bawah godaan. Kemudian kata pasko digunakan
penderitaan fisik yang tidak terkait dengan penganiayaan, penderitaan di bawah
godaan, dan kesulitan dalam arti umum. Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa cobaan
yang mendatangkan kesusahan yang dialami oleh jemaat di Tesalonika sangat
kompleks.
Secara tidak langsung
Paulus menggambarkan penindasan berasal dari si Iblis. Si Iblis itu pula yang
mencegah Paulus untuk bertemu muka dengan muka dengan jemaat di Tesalonika.
Pencegahan itu dimaksudkan agar iman jemaat bisa goyah, terguncang dan hilang sehingga
pemberitaan Paulus menjadi sia-sia. Kata Yunani yang diterjemahkan
sebagai terguncang, berasal dari gagasan seekor anjing yang mengibaskan
ekornya. "Tersanjung, seperti anjing yang menyanjung, dengan mengibaskan
ekornya; Iblis menyanjungmu dengan janji kemudahan yang lebih besar melalui
cara yang berlawanan.”
Apa tugas Timotius di
Tasalonika? Paulus ingin Timotius melakukan dua
hal, pertama menguatkan dan kedua memberi dorongan iman kepada
jemaat. Keduanya penting, tetapi menguatkan lebih
dulu. Dorongan hanya dapat datang setelah dikuatkan di arah yang
benar; jika tidak, kita hanya akan didorong ke arah yang salah.
Timotius menguatkan hati jemaat dan memberi dorongan iman agar tidak
digoyahkan oleh kesusahan. Kehadiran Timotius akan membantu mereka
menanggung kesulitan yang mereka hadapi saat ini. Sebab Paulus menyadari bahwa
si penggoda ingin memanfaatkan masa penderitaan ini agar jemaat di Tesalonika
meninggalkan Allah. Jika jemaat goyah dalam iman, Paulus menganggap
pekerjaannya di antara mereka sia -sia.
Kedua, ayat
6-10. Laporan Timotius yang memberi semangat bagi Paulus. Timotius membawa
kabar baik kepada Paulus tentang iman dan kasih jemaat di Tesalonika. Jemaat
Tesalonika baik-baik saja dalam iman dan kasih. Dalam tafsirannya, Calvin,
tentang iman dan kasih, mengatakan bahwa dua kata ini secara ringkas
menyatakan inti kesalehan jemaat di Tesalonika. Timotius juga menyampaikan
kabar baik bahwa jemaat di Tesalonika tidak mempercayai berita bohong dan jahat
tentang Paulus.
Paulus mendengar kabar
baik tersebut sehingga ia mengatakan bahwa dalam segala penderitaan dan
kesusahan kami, kami dihibur. Paulus menulis surat ini dari Korintus, dan
kedatangannya ke kota itu ditandai dengan kesulitan. Namun dengan adanya berita
ini membuat Paulus merasa jauh lebih baik. Sejak Timotius kembali dengan kabar
baik, Paulus memiliki kekuatan baru dan kesegaran hidup. Oleh karena itu hal
pertama yang dilakukan oleh Paulus adalah mengucap syukur. Ucapan
syukur dan sukacitanya meluap karena ia tahu bahwa mereka
tetap teguh di dalam Tuhan. Kedua, siang malam kami berdoa
sungguh-sungguh, supaya kami dapat melihat wajahmu dan menyempurnakan apa yang
masih kurang pada imanmu. Kabar baik yang dibawa oleh Timotius belum cukup
sehingga rindu untuk melihat langsung jemaat di Tesalonika.
Ketiga, ayat
11-13. Doa dan permohonan berkat dari Paulus. Doa yang dinaikan oleh Paulus
ditujukan langsung kepada Tuhan dengan sangat khusyuk. Tuhan Yesus Kristus
memiliki kuasa untuk membuka jalan ke Tesalonika sekali lagi. Paulus terhibur
oleh keadaan jemaat Tesalonika, namun ia tetap berdoa agar
Allah mengarahkan jalannya kepada jemaat
Tesalonika. Dan untuk melengkapi apa yang kurang, mereka
harus bertambah dan berlimpah dalam kasih. Paulus mengharapkan orang
Kristen di Tesalonika untuk menunjukkan kasih kepada satu sama lain
dan kepada semua orang. Sama seperti yang kami lakukan kepada Anda. Paulus
dengan berani menetapkan dirinya sebagai standar kasih yang patut ditiru.
Paulus tahu bahwa Allah
menghendaki jemaat Tesalonika memiliki hati yang teguh, tak
bercacat dan kudus. Dalam doa ini menekankan tiga hal penting. Pertama, ia
ingin bersama mereka sehingga mereka dapat memperoleh manfaat dari
kebijaksanaan dan wewenang kerasulannya. Kedua, dia ingin mereka berlimpah
kasih. Ketiga, ia ingin mereka teguh dalam kekudusan hati yang sejati.
POKOK-POKOK RENUNGAN
Dari pembahasan di atas maka kita dapat
mencatat beberapa pokok renungan.
Pertama,
dalam menghadapi berbagai cobaan, iman warga gereja tetap bertumbuh dan memberi
dampak bagi dunia ini. Hari ini kita merayakan HUT Reformasi, HUT GMIT, mari
kita terus memperbaharui komitmen panggilan kita sebagai warga gereja untuk
tetap bertumbuh dan berdampak. Dengan adanya berbagai tantangan dunia yang semakin
kompleks, tidak membuat kita goyah namun semakin teguh beriman kepada Yesus
Kristus. Seperti jemaat di Tesalonika yang mengalami berbagai pencobaan, namun
mereka tetap beriman dan menunjukkan kasih mereka.
Kedua, GMIT
berumur 78 tahun dan kita merayakan HUT reformasi gereja yang ke-508. Sebagai
gereja, tugas gereja adalah saling menguatkan, bukan gereja A kuat sendiri lalu
gereja B lemah, atau gereja “A mata air gereja B air mata”. Penguatan gereja
dalam berbagai aspek, baik daya, teologi dan dana. Setelah kuat, mari saling
mendorong, bukan dorongan yang menjatuhkan melainkan dorongan untuk bertumbuh
dan berdampak. Kita bisa maju karena kita kuat berjalan bahkan berlari.
Perayaan HUT Reformasi, HUT GMIT dan Bulan Keluarga tahun ini menjadi spirit
bagi gereja untuk terus saling menguatkan dan saling mendorong, terus bertumbuh
dan berdampak bagi dunia. Paulus mengutus Timotius ke jemaat di Tesalonika
untuk menguatkan iman jemaat dan mendorong jemaat agar tetap kuat.
Ketiga, perayaan
HUT GMIT, HUT Reformasi dan penutupan Bulan Keluarga saat ini, sebagai warga
GMIT dan gereja-gereja reformasi, kita memanjatkan syukur yang tak
terhingga kepada Tuhan yang menghadirkan gereja di dalam dunia ini. Banyak hal
yang telah gereja kerjakan dan berdampak bagi masyarakat, bagi bangsa, negara,
dan dunia ini. Untuk GMIT, banyak hal yang telah dilakukan oleh gereja, sebab
sebelum Indonesia merdeka GMIT sudah berkarya memberitakan kabar baik dan
menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah sampai saat ini. Walaupun terdapat
kekurangan dan kelemahan, itu hal yang normal, karena gereja adalah kumpulan
orang-orang berdosa. Namun seperti Paulus yang berdoa kepada jemaat di
Tesalonika, mari kita berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan terus menyempurnakan
pekerjaan melalui gereja-Nya. Biarlah melalui kekurang dan kelemahan kemuliaan
Kristus dinyatakan.
Keempat, perayaan saat ini kita diingatkan agar gereja terus menunjukkan kasih kepada semua orang. Gereja menjadi patokan standar kasih yang perlu ditiru oleh dunia ini. Selamat merayakan HUT Reformasi dan HUT GMIT. Terus menjadi warga yang gereja terus beriman, bertumbuh dan berdampak bagi dunia ini. Amin.

