GEREJA YANG BERIMAN, BERTUMBUH DAN BERDAMPAK (1 TESALONIKA 3:1-13) - PDT. FRANSISKUS S. NAHAK


Frans Nahak

Hari ini, Jumat, 31 Oktober kita merayakan HUT Reformasi yang ke-508, HUT GMIT ke-78 dan Penutupan Bulan Keluarga. Tema renungan kita adalah Gereja yang Beriman, Bertumbuh dan Berdampak. Berbicara tentang Gereja yang beriman pertama-tama kita tidak berbicara tentang gereja sebagai lembaga, gedung gereja, melainkan orangnya. Gereja adalah orangnya bukan gedungnya (KJ 257). Gereja yang beriman adalah orang/warga gereja yang tetap beriman kepada Kristus di tengah-tengah tantangan dunia yang kompleks.

Gereja yang bertubuh, kita berbicara tentang gereja yang hidup, sebab sesuatu yang bertumbuh itu karena dia hidup. Kemudian Gereja yang berdampak, adalah kemanfaatan kehadiran gereja bagi dunia ini. Oleh karena itu, dari tema ini kita dapat merumuskan bahwa gereja yang beriman adalah gereja yang bertumbuh dan berdampak bagi dunia.

Gereja adalah orangnya, Anda dan saya, serta keluarga-keluarga Kristen di mana pun. Bagaimana orang beriman menghadapi tantang dunia yang semakin kompleks? Bagaimana kita pertumbuhan; ke arah mana? Atau gereja hidup namun tidak bertumbuh, kerdil? Bertumbuh tetapi tidak sehat? Sejauh mana dampak kehadiran kita bagi sesama, lingkungan, dst.?

PEMBAHASAN TEKS

Kita dapat membagi bacaan ini dalam beberapa pokok pembahasan.

Pertama, ayat 1-5. Paulus mengirim Timotius kepada jemaat di Tesalonika. Timotius diutus untuk mengetahui iman dan menguatkan iman jemaat di Tesalonika. Apakah iman mereka masih terpelihara dan mereka masih mempertahankan iman mereka, karena Paulus tahu bahwa ada penggoda yang menggodai mereka. Bagi Paulus, penggoda yang mencobai mereka melalui penderitaan tidak mengejutkan (ay. 5) sebab sebelumnnya Paulus sudah mengingatkan mereka (ay. 4).

Pada pasal 2:17-18, Paulus memiliki kerinduan untuk hidup bersama dengan jemaat di Tesalonika. Dia mau bersama mereka pada masa-masa pencobaan tersebut. Namun karena Paulus tidak dapat bersama mereka, ia mengutus rekan sekerjanya, Timotius, kepada mereka. Walaupun Timotius adalah anak rohaninya, masih sangat muda, Paulus menganggap dia sebagai rekan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa Paulus sangat menghargai dan menghormati seorang pelayan walaupun masih sangat muda. Ia melihat orang muda yang melayani bukan sebagai saingan dalam pelayanan.

Apa cobaan yang mendatangkan kesusahan bagi jemaat Tesalonika? Jemaat mengalami kesusahan penindasan karena iman kepada Yesus Kristus (1:6). Mereka menerima dan mengakui Yesus selaku Tuhan dan Juruselamat sehingga mendatangkan penindasan yang menimbulkan penderitaan dan kesusahan. Selain itu, dalam terjemahan Yunaninya, penderitaan yang dialami oleh jemaat di Tesalonika bukan hanya penderitaan karena penganiayaan sebab kata thilipsis, menunjuk kesulitan emosional dan penderitaan di bawah godaan. Kemudian kata pasko digunakan penderitaan fisik yang tidak terkait dengan penganiayaan, penderitaan di bawah godaan, dan kesulitan dalam arti umum. Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa cobaan yang mendatangkan kesusahan yang dialami oleh jemaat di Tesalonika sangat kompleks.

Secara tidak langsung Paulus menggambarkan penindasan berasal dari si Iblis. Si Iblis itu pula yang mencegah Paulus untuk bertemu muka dengan muka dengan jemaat di Tesalonika. Pencegahan itu dimaksudkan agar iman jemaat bisa goyah, terguncang dan hilang sehingga pemberitaan Paulus menjadi sia-sia. Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai terguncang, berasal dari gagasan seekor anjing yang mengibaskan ekornya. "Tersanjung, seperti anjing yang menyanjung, dengan mengibaskan ekornya; Iblis menyanjungmu dengan janji kemudahan yang lebih besar melalui cara yang berlawanan.”

Apa tugas Timotius di Tasalonika? Paulus ingin Timotius melakukan dua hal, pertama menguatkan dan kedua memberi dorongan iman kepada jemaat. Keduanya penting, tetapi menguatkan lebih dulu. Dorongan hanya dapat datang setelah dikuatkan di arah yang benar; jika tidak, kita hanya akan didorong ke arah yang salah. Timotius menguatkan hati jemaat dan memberi dorongan iman agar tidak digoyahkan oleh kesusahan. Kehadiran Timotius akan membantu mereka menanggung kesulitan yang mereka hadapi saat ini. Sebab Paulus menyadari bahwa si penggoda ingin memanfaatkan masa penderitaan ini agar jemaat di Tesalonika meninggalkan Allah. Jika jemaat goyah dalam iman, Paulus menganggap pekerjaannya di antara mereka sia -sia.

Kedua, ayat 6-10. Laporan Timotius yang memberi semangat bagi Paulus. Timotius membawa kabar baik kepada Paulus tentang iman dan kasih jemaat di Tesalonika. Jemaat Tesalonika baik-baik saja dalam iman dan kasih. Dalam tafsirannya, Calvin, tentang iman dan kasih, mengatakan bahwa dua kata ini secara ringkas menyatakan inti kesalehan jemaat di Tesalonika. Timotius juga menyampaikan kabar baik bahwa jemaat di Tesalonika tidak mempercayai berita bohong dan jahat tentang Paulus.

Paulus mendengar kabar baik tersebut sehingga ia mengatakan bahwa dalam segala penderitaan dan kesusahan kami, kami dihibur. Paulus menulis surat ini dari Korintus, dan kedatangannya ke kota itu ditandai dengan kesulitan. Namun dengan adanya berita ini membuat Paulus merasa jauh lebih baik. Sejak Timotius kembali dengan kabar baik, Paulus memiliki kekuatan baru dan kesegaran hidup. Oleh karena itu hal pertama yang dilakukan oleh Paulus adalah mengucap syukur. Ucapan syukur dan sukacitanya meluap karena ia tahu bahwa mereka tetap teguh di dalam Tuhan. Kedua, siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kami dapat melihat wajahmu dan menyempurnakan apa yang masih kurang pada imanmu. Kabar baik yang dibawa oleh Timotius belum cukup sehingga rindu untuk melihat langsung jemaat di Tesalonika.

Ketiga, ayat 11-13. Doa dan permohonan berkat dari Paulus. Doa yang dinaikan oleh Paulus ditujukan langsung kepada Tuhan dengan sangat khusyuk. Tuhan Yesus Kristus memiliki kuasa untuk membuka jalan ke Tesalonika sekali lagi. Paulus terhibur oleh keadaan jemaat Tesalonika, namun ia tetap berdoa agar Allah mengarahkan jalannya kepada jemaat Tesalonika.  Dan untuk melengkapi apa yang kurang, mereka harus bertambah dan berlimpah dalam kasih. Paulus mengharapkan orang Kristen di Tesalonika untuk menunjukkan kasih kepada satu sama lain dan kepada semua orang. Sama seperti yang kami lakukan kepada Anda. Paulus dengan berani menetapkan dirinya sebagai standar kasih yang patut ditiru.

Paulus tahu bahwa Allah menghendaki jemaat Tesalonika memiliki hati yang teguh, tak bercacat dan kudus. Dalam doa ini menekankan tiga hal penting. Pertama, ia ingin bersama mereka sehingga mereka dapat memperoleh manfaat dari kebijaksanaan dan wewenang kerasulannya. Kedua, dia ingin mereka berlimpah kasih. Ketiga, ia ingin mereka teguh dalam kekudusan hati yang sejati.

POKOK-POKOK RENUNGAN

Dari pembahasan di atas maka kita dapat mencatat beberapa pokok renungan.

Pertama, dalam menghadapi berbagai cobaan, iman warga gereja tetap bertumbuh dan memberi dampak bagi dunia ini. Hari ini kita merayakan HUT Reformasi, HUT GMIT, mari kita terus memperbaharui komitmen panggilan kita sebagai warga gereja untuk tetap bertumbuh dan berdampak. Dengan adanya berbagai tantangan dunia yang semakin kompleks, tidak membuat kita goyah namun semakin teguh beriman kepada Yesus Kristus. Seperti jemaat di Tesalonika yang mengalami berbagai pencobaan, namun mereka tetap beriman dan menunjukkan kasih mereka.

Kedua, GMIT berumur 78 tahun dan kita merayakan HUT reformasi gereja yang ke-508. Sebagai gereja, tugas gereja adalah saling menguatkan, bukan gereja A kuat sendiri lalu gereja B lemah, atau gereja “A mata air gereja B air mata”. Penguatan gereja dalam berbagai aspek, baik daya, teologi dan dana. Setelah kuat, mari saling mendorong, bukan dorongan yang menjatuhkan melainkan dorongan untuk bertumbuh dan berdampak. Kita bisa maju karena kita kuat berjalan bahkan berlari. Perayaan HUT Reformasi, HUT GMIT dan Bulan Keluarga tahun ini menjadi spirit bagi gereja untuk terus saling menguatkan dan saling mendorong, terus bertumbuh dan berdampak bagi dunia. Paulus mengutus Timotius ke jemaat di Tesalonika untuk menguatkan iman jemaat dan mendorong jemaat agar tetap kuat.

Ketiga, perayaan HUT GMIT, HUT Reformasi dan penutupan Bulan Keluarga saat ini, sebagai warga GMIT dan gereja-gereja reformasi, kita memanjatkan  syukur yang tak terhingga kepada Tuhan yang menghadirkan gereja di dalam dunia ini. Banyak hal yang telah gereja kerjakan dan berdampak bagi masyarakat, bagi bangsa, negara, dan dunia ini. Untuk GMIT, banyak hal yang telah dilakukan oleh gereja, sebab sebelum Indonesia merdeka GMIT sudah berkarya memberitakan kabar baik dan menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah sampai saat ini. Walaupun terdapat kekurangan dan kelemahan, itu hal yang normal, karena gereja adalah kumpulan orang-orang berdosa. Namun seperti Paulus yang berdoa kepada jemaat di Tesalonika, mari kita berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan terus menyempurnakan pekerjaan melalui gereja-Nya. Biarlah melalui kekurang dan kelemahan kemuliaan Kristus dinyatakan.

Keempat, perayaan saat ini kita diingatkan agar gereja terus menunjukkan kasih kepada semua orang. Gereja menjadi patokan standar kasih yang perlu ditiru oleh dunia ini. Selamat merayakan HUT Reformasi dan HUT GMIT. Terus menjadi warga yang gereja terus beriman, bertumbuh dan berdampak bagi dunia ini. Amin.

Teknologi

Berita Terpopuler

Kolom Komentar


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *